Dioda, Transistor, dan Microprosesor

Posted by M Abdul Ghani on 03 April 2010


Silicon tipe-n dan tipe-p tidaklah menakjubkan, jika masing-masing berdiri sendiri. Namun, bila keduanya diletakan berdampingan dalam sebuah komponen elektronika bernama dioda, barulah sebuah keunikan sifatnya itu terlihat.
Dioda adalah komponen elektronika yang memblokir arus listrik dari satu arah, dan mengizinkan aliran dari arah lain. Dioda digunakan dalam banyak perangkat elektronik, misalnya sebuah kamera digital menggunakannya untuk memblokir arus listrik yang terpasang terbalik.

Teknologi menumental lainnya yang masih berkaitan dengan dioda adalah transistor. Keduanya memiliki banyak kesamaan. Transistor dibangun dengan tiga lapis silicon, sementara dioda hanya menggunakan dua lapis. Sebuah transistor bisa berupa campuran NPN (negarive positive negative) atau PNP (positive negative positive).
Sebuah transistor bisa berfungsi sebagai switch atau amplifier. Sebuah transistor terlihat seperti dua dioda yang dipasang saling membelakangi (back-to-back). Bisa dibayangkan, tidak ada arus yang bisa melintai sebuah transistor karena dioda back-to-back akan memblokir arus dari kedua sisi.
Meski demikian, jika sebuah arus kecil diaplikasikan ditengah lapisan tumpukan silicon dalam transistor, maka arus yang lebih besar bisa melintasi tumpukan tersebut. Dengan demikian, transistor dapat berfungsi sebagai switch. Arus kecil di tengah tumpukan digunakan untuk menghantarkan atau memblokir arus yang lebih besar.
Sebuah chip silicon dapat berisi ribuan transistor. Dengan fungsi transistor sebagai switch, anda bisa menyulap chip ini sebagai Boolean gate yang menjadi dasar dari microprosesor. Ternyata panjang juga perjalanan silicon menuju ke microprosesor.